Langsung ke konten utama

Postingan

Kalau Kamu Ngerasa Hidup ini Nggak Adil, Baca ini dulu

Habis nonton Hanzawa Naoki entah tahun kapan, yang epik banget (kata saya sih :D) terus jadi ketagihan nonton film-film garapan Jun Ikeido. Terakhir, Jun release film terbarunya, Rikuou. Di episode pertama film ini, Daichi dan ayahnya yang adalah generasi ke-4 penerus usaha sepatu tradisional Jepang, “tabi” pergi menonton pertandingan marathon. Mogi, sang atlet marathon sebelumnya adalah pemain baseball yang karena cedera sikut harus mengubur mimpinya. Tapi walaupun sikut Mogi cedera, ia masih mampu berlari dan dimulailah karirnya sebagai atlet marathon.  Sayangnya menjelang garis finish, Mogi mengalami cedera pada salah satu kakinya. Pada akhirnya, Mogi harus keluar dari pertandingan tanpa melewati garis finish. Daichi yang awalnya begitu antusias, akhirnya bilang, “(di dunia ini) ada hal yang tidak bisa kamu raih, sekeras apapun kamu berusaha” . Duh Jun Ikeido juara banget emang mainin emosi penonton dah T.T yang nonton kan jadinya ikut kebawa emosi hahahaha. Apalagi seb...

Global Trend 2030

Pasca pidato Prabowo yang memperingatkan Indonesia bisa bubar pada tahun 2030, respon dari berbagai kalangan pun bermunculan. Mahfud MD mengajak agar tidak memandang masa depan Indonesia secara pesimis, Rais Am PBNU pun menampik isu Indonesia bubar 2030, sedangkan Rizal Ramli menanggapi dengan komentar "ngenes, norak, dan tidak intelek". Berbeda dengan yang lainnya, Gatot Nurmantyo memberikan sinyal positif atas apa yang disampaikan oleh Prabowo. Peter W Singer sebagai salah satu penulis novel fiksi Ghost Fleet sampai angkat bicara, lewat twitternya @peterwsinger ia menyebutkan, “ Indonesian opposition leader cites #GhostFleet in fiery campaign speeches… There have been many unexpected twists and turns from this book experience, but this may take the cake ... (Pemimpin oposisi Indonesia mengutip #GhostFleet dalam pidato kampanyenya yang berapi-api. Ada banyak liku-liku terkait buku ini, namun itu mungkin yang paling istimewa...)”. Dikarenakan latar belakang penulisnya ...

Overwhelmed Sadness

Seperti biasa kalau boncengan ama sohibah yang satu ini suka jadi ngobrol ngalor ngidul saingan ama hembusan suara angin #halah Berhubung umur kita berdua udah ngelewatin umur nabi waktu nikah sama Siti Khadijah (kenapa nyambung kesana? Wkwkwk) terus kita punya background akademik yang sama jadilah kita terjebak nostalgia #eeeaa :p Tema besar obrolan kita sih tentang berdamai ama masa lalu (serius amats kan ngobrolnya? Wkwkwkwk). Manusia itu unik memang, pengalaman hidup yang ia lewati sedikit banyak mempengaruhi apa yang dia pilih hari ini. Saya mau cerita satu contoh aja misalnya, ada seorang anak laki-laki yang nggak suka sama ibunya karena dia pikir waktu kecil ibunya nelantarin dia dengan naro dia di panti asuhan. Padahal realitanya adalah ibunya bekerja dan anak laki-lakinya ini dititipkan ke daycare supaya bisa tumbuh dengan baik (ini nggak lagi debat tentang stay at home mom vs working mom ya,, tiap keluarga kan punya different circumstances ). Bodohnya anak ini ...

Aurat Gue Urusan Gue

Besok pagi harusnya ke bandara,, dan jam segini masih belum packing -_- nggak bisa fokus gegara mikirin beberapa hal.. tiga Maret kemarin di Jakarta ada aksi womens march dengan 8 tuntutannya yang bisa di googling lah ya.. aksi women march disini ga lepas dari gerakan parent nya, Womens March di USA sana,, di dalam website nya disebutin kalau aksi mereka pada Januari 2017 adalah aksi terkoordinasi yang terbesar di sepanjang sejarah Amerika dan dunia. Apa yang dituntut dalam aksi mereka? Cek aja misinya yang saya copast abis dari website nya di bagian akhir tulisan ini. Tentu saja tuntutan aksi di Jakarta pun ga lepas dari misi besar women march global. Dalam salah satu poster yang dibawa oleh peserta aksi, disana dituliskan "aurat gue bukan urusan lo", "bukan salah rok mini tapi otak lo yang mini", "pakai hijab ok, nggak pake hijab juga kece", dan masih banyak yg lainnya, termasuk kampanye mendukung LQBTQIA. Somehow saya merasa aksi ini seolah meng...