Langsung ke konten utama

Hisab

Bikin muhasabah tertulis setiap bulannya sudah jadi kebiasaan sejak beberapa tahun ke belakang. Dan setiap kali masanya tiba, pola lama selalu berulang, selalu merasa "kenapa waktu cepat sekali berlalu", "kenapa saya sangat minimal dalam beramal", "sebulan kemarin ngapain aja woy?!"

وَٱلْعَصْرِ إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ 

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, [Surat Al-Asr (103) ayat 1-2]

Dan Allah bersumpah atas nama waktu dimana waktu menjadi saksi atas semua amalan yang dilakukan oleh bani Adam. Peradaban manusia bangkit dan runtuh sesungguhnya disaksikan oleh lintasan masa. Orang yang taat kepada Allah, membangkang perintahnya,, roda sejarah semuanya terekam dalam catatan waktu. Dan Allah menyebutkan manusia dalam kerugian dan bersumpah atas namanya. Adakah kita mampu untuk mengelak kesaksian masa atas laku kita?

Rasanya tertampar lagi begitu mengingat firman Allah di surat Al-Insyiqaq, Allah subhanahu wa ta'ala mengingatkan

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَـٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًۭا فَمُلَـٰقِيهِ

Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. [Surat Al-Insyiqaq (84) ayat 6]

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan,  sesungguhnya jerih payah bani Adam sangatlah lemah. Oleh karena itu, siapa saja yang mampu berupaya untuk mencurahkan seluruh daya upayanya dalam ketaatan kepada Allah, hendaklah ia melakukannya. Dan tidaklah mungkin seorang manusia mampu melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah, maka memohonlah padaNya dengan sebenar-benar kesungguhan.

Ketika Allah sudah mengingatkan kita untuk segera beramal, tak jarang setan pun datang membisikkan hasutannya. Ia mengatakan, "untuk apa beramal? kalau Allah sudah menakdirkan kebaikan untukmu, sekalipun engkau meninggalkannya, tidak akan datang petaka bagimu. Dan jika Allah telah menakdirkanmu menderita, tak datang manfaat sekeras apapun kau mengejarnya". Lalu kita mulai berpikir, "catatan telah kering, lalu untuk apa tergesa-gesa beramal? usia kita masih panjang,, bukankah Allah maha menerima taubat?"

Duhai jiwa yang lemah, ingatlah nasihat dari Imam Al-Ghazali, dalam kitab beliau, Minhajul Abidin, beliau mengatakan
Aku hanya seorang hamba, dan kewajiban seorang hamba adalah menjalankan perintah agar senantiasa beribadah kepada-Nya, dan Tuhan lebih tahu tentang rububiyyah-Nya. Dia menghukumi terhadap apa yang dikehendakinya, dan berbuat terhadap apa yang diinginkannya. Amalan itu akan mendatangkan manfaat bagiku dimana pun aku berada, sebab jika aku hidup bahagia, aku tetap membutuhkan amalan itu guna menambah pahala dan balasan di akhirat kelak, dan jika aku hidup sengsara, aku membutuhkannya pula, agar aku tidak menganiaya diriku; dengan alasan bahwa pada kondisi apapun, Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan menyiksaku dalam ketaatan, dan tidak pula mendatangkan malapetaka bagiku. Jika aku dimasukkan ke neraka, padahal aku taat, maka itu lebih kusukai daripada aku memasukinya karena berbuat maksiat. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Janji-Nya adalah nyata dan perkataan-Nya adalah benar. Dia telah menjanjikan pahala kepada siapa saja yang taat kepada-Nya. Karena itu, barang siapa mati dalam keadaan beriman dan taat kepada-nya, maka dia pasti akan masuk surga. Orang itu masuk surga bukan karena ia berhak memasukinya atas amalannya, tetapi karena janji Allah subhanahu wa ta'ala yang benar dan suci.

Tidak jarang kita ini suka sekali menyalahkan irrelevant thing atas apa-apa yang menimpa kita. Kita yang telat, yang disalahin kemacetan di jalan. Kita yang ga ngerti pelajaran, yang disalahin guru di kelas. Kita yang berdosa, yang disalahin Allah yang sudah menakdirkannya buat kita. Padahal common sense kita aja ga bakal terima kalau ada yg nempeleng wajah kita terus dia berlepas diri dengan bilang, "saya mukul muka kamu itu sudah tercatat di lauhul mahfudz jadi kamu jangan protes"

Setelah Allah mengingatkan kita agar beramal sebelum datang masa perjumpaan denganNya, Allah menggambarkan golongan yang beruntung di yaumil akhir kelak

فَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًۭا يَسِيرًۭا 

Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, [Surat Al-Insyiqaq (84) ayat 7-8]

Ibn Katsir menjelaskan, yaitu perhitungan yang mudah, tiada kesulitan. Atau tidak dilakukan perhitungan secara detail atas semua amal perbuatannya, karena sesungguhnya orang yang diperiksa dengan pemeriksaan yang teliti dan ketat pasti akan binasa.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Abdul Wahid ibnu Hamzah ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari Aisyah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. dalam salah satu salatnya mengucapkan doa berikut: Ya Allah, hisablah diriku dengan hisab yang mudah. Setelah beliau selesai dari salatnya, aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan hisab yang mudah?" Rasulullah Saw. menjawab: Ia melihat kepada kitab catatan amal perbuatannya, lalu Allah memaafkan kesalahan yang tercatat di dalamnya. Hai Aisyah, sesungguhnya orang yang diteliti dalam hisabnya di hari itu pasti binasa.

 "اللَُهَم َحاِسْبنِي ِحَسابًا يَِسيًرا".

😭


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saat Amygdala dan Pre Frontal Cortex Berseteru tentang Iman

Hidayah, kadang dia suka jadi kambing hitam. Belum bertobat, belum dapat hidayah katanya. Padahal ibarat lembaran bertuliskan alamat tujuan, selamanya tidak akan menyampaikan kita padanya jika kaki kita tak juga dilangkahkan menuju kesana. Imam Al Hasan Al Basri mengatakan, “Wahai anak Adam, meninggalkan maksiat lebih mudah daripada memohon taubat.” Orang awam bilang mencegah lebih baik daripada mengobati. Tapi nasehat terkadang tinggallah nasehat. Taubat sambal katanya, sudah tau pedas tapi masih juga dilahap. Begitulah manusia, kadang rasionya tidak sejalan dengan emosinya. Kita mungkin kadang bertanya, mengapa emosi dan rasio kita tidak sejalan? Kita tahu berbohong itu dosa, tapi kita melakukannya, kita tahu kalau riba itu haram, tapi kita memakannya, kita tahu kalau pacaran itu dilarang, tapi kita mendekatinya. Neuroscientist mengatakan, di dalam otak kita ada pusat kendali emosi manusia, yaitu amygdala. Dalam keadaan terancam, amygdala akan mengambil alih mekanisme berpikir ...

Kalau Kamu Ngerasa Hidup ini Nggak Adil, Baca ini dulu

Habis nonton Hanzawa Naoki entah tahun kapan, yang epik banget (kata saya sih :D) terus jadi ketagihan nonton film-film garapan Jun Ikeido. Terakhir, Jun release film terbarunya, Rikuou. Di episode pertama film ini, Daichi dan ayahnya yang adalah generasi ke-4 penerus usaha sepatu tradisional Jepang, “tabi” pergi menonton pertandingan marathon. Mogi, sang atlet marathon sebelumnya adalah pemain baseball yang karena cedera sikut harus mengubur mimpinya. Tapi walaupun sikut Mogi cedera, ia masih mampu berlari dan dimulailah karirnya sebagai atlet marathon.  Sayangnya menjelang garis finish, Mogi mengalami cedera pada salah satu kakinya. Pada akhirnya, Mogi harus keluar dari pertandingan tanpa melewati garis finish. Daichi yang awalnya begitu antusias, akhirnya bilang, “(di dunia ini) ada hal yang tidak bisa kamu raih, sekeras apapun kamu berusaha” . Duh Jun Ikeido juara banget emang mainin emosi penonton dah T.T yang nonton kan jadinya ikut kebawa emosi hahahaha. Apalagi seb...

Kata Ganti dalam Bahasa Arab [Kata Ganti untuk Allah]

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Kalau dalam Bahasa Indonesia kita mengenal kata ganti yang bebas dari orientasi gender, seperti saya, kamu, dia, mereka, dst. Dalam Bahasa Inggris kita belajar kata ganti he untuk laki-laki, she untuk perempuan, dan it yang netral gender. Nah, dalam Bahasa Arab ada dua gender, yaitu mudzakkar (yang menunjukkan laki-laki) dan muannats (yang menunjukkan perempuan). Kalau dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa inggris dikenal kata ganti tunggal dan jamak, dalam Bahasa Arab dikenal kata ganti tunggal (mufrod), ganda (mutsanna), dan jamak. Jadi, jika dikumpulkan ada 12 kata ganti dalam Bahasa arab, yaitu: 1. هُوَ (Dia [laki-laki]): untuk orang ketiga (yang dibicarakan), tunggal (mufrad), mudzakkar. 2. هُمَا (Mereka berdua [laki-laki/perempuan]): untuk orang ketiga, ganda (mutsanna), baik mudzakkar maupun muannats. 3. هُمْ (Mereka [banyak laki-laki]): untuk orang ketiga, jamak, mudzakkar. 4. هِيَ (Dia [perempuan]): untuk orang ketiga, mufrad, muannats. 5. هُ...