Bahas yang agak mikir ah :D
Ahad lalu di Mahad ada dauroh ushul tafsir yang diisi sama
Ustadz Ade Sudiana. Beliau mengawali kajian dengan kalimat motivasi, ushul
tafsir ini awalu haddin akhiru layyin, awalnya keras seperti
besi, tapi akhirnya akan mudah. Banyak sekali yang beliau sampaikan, kalau
dibuat catatan tentu saja akan panjang,, in sya Allah kalau masih ada
kesempatan akan dibuat resume nya. Sekarang saya mau nulis side story yang
beliau ceritakan (dan sedikit tambahan) :D
Orang-orang kafir Quraisy itu, ketika akan mengirimkan
utusan untuk bertemu dengan Rasul shalallahu 'alaihi wassallam mensyaratkan
tiga kriteria, yaitu dia harus pandai dalam syair, sihir, dan perdukunan. Lalu
diutuslah Al-Walid ibn Al-Mughirah untuk bertemu Rasul shalallahu
'alaihi wassallam, lalu dengan kriteria utusan seperti itu, tau apa yang
disampaikan oleh Walid tentang Al-Qur’an? Ia berkata bahwa apa yang dibawa oleh
Muhammad itu, jika dicicipi manis, jika dilihat indah, seperti pohon yang
selalu berbuah, pohon tersebut tumbuh di tanah subur. Coba bayangkan, pengakuan
jujur dari seseorang yang ahli dalam syair memuji Al-Quran dengan ungkapan yang
tidak terbantahkan. Walid juga mengatakan bahwa Al-Qur’an itu tinggi, dan tidak
ada yang lebih tinggi. Al-Qur’an pasti mengalahkan seluruh yang ada di
bawahnya, apapun yang dituduhkan pada apa yang dibawah oleh Nabi pasti akan
gagal. Mendengar apa yang disampaikan oleh Walid, Abu Jahal langsung marah dan
meminta Walid supaya mencari tuduhan yang lain. Tidakkah kita mengambil
pelajaran? Tuduhan dan propaganda negatif selalu dilakukan oleh mereka yang
memiliki penyakit dalam hatinya kepada mereka para pengemban dakwah Islam.
Apa yang dilakukan oleh Walid dan Abu Jahal, Allah abadikan
dalam surat Al-Mudatstsir
ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا (11) وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا
مَمْدُودًا (12) وَبَنِينَ شُهُودًا (13) وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا (14) ثُمَّ
يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ (15) كَلَّا إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا (16)
سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا (17) إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (18) فَقُتِلَ كَيْفَ
قَدَّرَ (19) ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (20) ثُمَّ نَظَرَ (21) ثُمَّ عَبَسَ
وَبَسَرَ (22) ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (23) فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا
سِحْرٌ يُؤْثَرُ (24) إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ (25) سَأُصْلِيهِ
سَقَرَ (26) وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ (27) لَا تُبْقِي وَلَا
تَذَرُ (28) لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ (29) عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah
menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan
anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kulapangkan baginya (rezeki dan
kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku
menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia
menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur'an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian
yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang
ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian
celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan, sesudah
itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan
menyombongkan diri, lalu dia berkata, "(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah
sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah
perkataan manusia.”Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu
apa (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.
(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas
(malaikat penjaga).
Upaya-upaya
yang dilakukan oleh siapapun yang berusaha memadamkan cahaya Allah pada
akhirnya akan berujung pada kegagalan, sebagaimana apa yang dikatakan oleh
Walid sendiri, "Demi Allah, sesungguhnya dalam ucapan
yang dikatakannya benar-benar terkandung keindahan yang tiada taranya. Dan
sesungguhnya ucapannya itu benar-benar dapat menghancurkan (mengalahkan) semua
yang ada di bawahnya, dan sesungguhnya ia benar-benar tinggi dan tiada yang
lebih tinggi daripada dia."
Al-Quran ini sungguh membungkam semua orang yang berusaha
untuk mematikan cahayanya. Di dalam riwayat Ibnu Hisyam
dari Ibnu Ishaq disebutkan bahwa ‘Utbah bin Rabi’ah seorang tokoh cendekiawan
di antara kaumnya berkata di majelis pertemuan Quraisy, “Wahai kaum Quraisy, ijinkanlah
aku bertemu dan berdialog dengan Muhammad, dan menawarkannya beberapa tawaran
kepadanya, barangkali dia bersedia menerima salah satunya. Kita berikan
kepadanya apa yang disukainya, dan dia berhenti menyusahkan kita”. Kaum Quraisy
menjawab: “Kami setuju, wahai Abu al-Walid. Pergi dan berdialoglah kepada
Muhammad.”
Kemudian ‘Utbah datang kepada Rasulullah shalallahu
'alaihi wassallam, lalu duduk di hadapan Nabi, dan berkata, “Wahai putra
saudaraku, anda adalah seorang dari lingkungan kami, dan anda pun telah
mengetahui kedudukan silsilah kami (yang dipandang terhormat oleh semua orang
Arab). Namun ternyata anda telah membawa suatu persoalan yang amat gawat kepada
kaum kerabat anda, dan anda telah memecah-belah kerukunan dan persatuan mereka.
Sekarang dengarkanlah baik-baik, saya hendak menawarkan kepada anda beberapa
hal yang mungkin dapat anda terima salah satu di antaranya, Nabi shalallahu
'alaihi wassallam menjawab :“ Katakanlah , hai Abu al-Walid, apa yang
hendak kamu tawarkan.“Utbah bin Rabi’ah berkata, “Wahai putra saudaraku, jika
dengan dakwah yang anda lakukan itu anda ingin mendapatkan harta kekayaan, maka
akan kami kumpulkan harta kekayaan yang ada pada kami untuk anda, sehingga anda
menjadi orang yang terkaya di kalangan kami. Jika anda menginginkan kehormatan
dan kemuliaan, anda akan kami angkat sebagai pemimpin, dan kami tidak akan
memutuskan persoalan apa pun tanpa persetujuan anda. Jika anda ingin menjadi
raja, kami bersedia menobatkan anda sebagai raja kami. Jika anda tidak sanggup
menangkal jin yang merasuk ke dalam jiwa anda, kami bersedia mencari tabib yang
sanggup menyembuhkan anda, dan untuk itu kami tidak akan menghitung-hitung
berapa biaya yang diperlukan sampai anda sembuh.”
Rasulullah saw bertanya kepada ‘Utbah, “Sudah selesaikan
anda wahai Abu al-Walid?“
Jawab ‘utbah, “Sudah“. Nabi shalallahu 'alaihi wassallam berkata,
“Sekarang dengarkanlah dariku.” Kemudian Nabi shalallahu 'alaihi wassallam membaca:
“Haa Miim. Diturunkan Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang. Kitab yang telah dijelaskan ayat-ayatnya, al-Quran dalam bahasa
Arab, bagi kaum yang hendak mengetahuinya. Kitab yang membawakan berita gembira
dan yang membawakan peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling dan mereka
tidak mau mendengarkannya. Mereka (bahkan) berkata, “Hati kami tertutup bagi
apa yang kamu serukan kepada kami, dan telinga kami pun tersumbat rapat. Antara
kami dan kamu terdapat dinding pemisah. Karenanya, silahkan kamu berbuat
(menurut kemauanmu sendiri) dan kami pun berbuat (menurut kemauan kami
sendiri).” Katakanlah (Hai Muhammad), “Bahwasannya aku adalah seorang manusia
(juga) seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan yang
Maha Satu, karena itu hendaklah kamu tetap pada jalan lurus menuju kepada-Nya
dan celakalah orang-orang yang mempersekutukanNya......”
Ketika ‘Utbah mendengar bacaan Rasulullah shalallahu
'alaihi wassallam sampai ayat :
“Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Kalian telah kuperingatakan
(mengenai datangnya) petir (adzab) seperti petir yang menghancurkan kaum ‘Aad
dan Tsamud (dahulu) (QS
Fushshilat: 13)
‘Utbah menutup mulut Nabi shalallahu 'alaihi wassallam
dengan tangannya memohon supaya berhenti membacanya karena takut ancaman yang
terkandung di dalam ayat tersebut.
Kemudian ‘Utbah kembali kepada kaumnya yang sudah
menantinya. Mereka bertanya, “Bagaimana hasilnya wahai Abu al-Walid?” ‘Utbah
menjawab: “Aku mendengar suatu perkataan yang belum pernah aku dengar sama
sekali. Demi Allah, perkataan itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan pula
mantera dukun. Wahai kaum Quraisy, taatilah aku, dan biarkan Muhammad dengan
urusannya. Biarkanlah dia! Demi Allah, sungguh perkataan yang aku dengar
darinya itu akan menjadi berita yang menggemparkan. Jika apa yang dikemukakan
Muhammad saw terjadi pada bangsa Arab, maka hanya dia yang bisa membebaskan
kamu. Dan jika Muhammad berkuasa atas bangsa Arab, maka kekuasaannya adalah
kekuasaanmu, kemuliaannya adalah kemuliaan kamu juga.”
Kaum Quraisy menjawab, “Demi Allah, Muhammad telah
menyihirmu, wahai Abu alWalid, dengan perkataanya.” ‘Utbah berkata,
“Demikianlah pendapatku tentang Muhammad. Kamu bebas untuk berbuat sesukamu.”
[Sirah Nabawiyah, Dr. Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buthy]
Tidakkah kita perhatikan ketika orang-orang kafir Quraisy
menyebutkan bahwa al-Quran ini adalah sihir, hal itu menggambarkan
ketidakberdayaan mereka akan ketinggian bahasa yang ada di dalamnya? Mereka
sangat sadar bahwa al-Quran ini bukanlah perkataan manusia, sehingga mereka
tidak mampu untuk mengungkap pengaruhnya kecuali dengan satu kata,
"sihir". Mereka pikir "sihir" adalah propaganda yang tepat
untuk menjatuhkan kredibilitas al-Quran, padahal sebaliknya tuduhan mereka
justru menunjukkan kelemahan diri mereka sendiri dan meninggikan pengaruh
al-Quran.

Komentar
Posting Komentar