Langsung ke konten utama

Ushul Tafsir (Side Story 1: Pengakuan para Pembenci)


Bahas yang agak mikir ah :D

Ahad lalu di Mahad ada dauroh ushul tafsir yang diisi sama Ustadz Ade Sudiana. Beliau mengawali kajian dengan kalimat motivasi, ushul tafsir ini awalu haddin akhiru layyin, awalnya keras seperti besi, tapi akhirnya akan mudah. Banyak sekali yang beliau sampaikan, kalau dibuat catatan tentu saja akan panjang,, in sya Allah kalau masih ada kesempatan akan dibuat resume nya. Sekarang saya mau nulis side story yang beliau ceritakan (dan sedikit tambahan) :D

Orang-orang kafir Quraisy itu, ketika akan mengirimkan utusan untuk bertemu dengan Rasul shalallahu 'alaihi wassallam mensyaratkan tiga kriteria, yaitu dia harus pandai dalam syair, sihir, dan perdukunan. Lalu diutuslah Al-Walid ibn Al-Mughirah untuk bertemu Rasul shalallahu 'alaihi wassallam, lalu dengan kriteria utusan seperti itu, tau apa yang disampaikan oleh Walid tentang Al-Qur’an? Ia berkata bahwa apa yang dibawa oleh Muhammad itu, jika dicicipi manis, jika dilihat indah, seperti pohon yang selalu berbuah, pohon tersebut tumbuh di tanah subur. Coba bayangkan, pengakuan jujur dari seseorang yang ahli dalam syair memuji Al-Quran dengan ungkapan yang tidak terbantahkan. Walid juga mengatakan bahwa Al-Qur’an itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi. Al-Qur’an pasti mengalahkan seluruh yang ada di bawahnya, apapun yang dituduhkan pada apa yang dibawah oleh Nabi pasti akan gagal. Mendengar apa yang disampaikan oleh Walid, Abu Jahal langsung marah dan meminta Walid supaya mencari tuduhan yang lain. Tidakkah kita mengambil pelajaran? Tuduhan dan propaganda negatif selalu dilakukan oleh mereka yang memiliki penyakit dalam hatinya kepada mereka para pengemban dakwah Islam.

Apa yang dilakukan oleh Walid dan Abu Jahal, Allah abadikan dalam surat Al-Mudatstsir

ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا (11) وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا (12) وَبَنِينَ شُهُودًا (13) وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا (14) ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ (15) كَلَّا إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا (16) سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا (17) إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (18) فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (19) ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (20) ثُمَّ نَظَرَ (21) ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (22) ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (23) فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ (24) إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ (25) سَأُصْلِيهِ سَقَرَ   (26) وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ (27) لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ (28) لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ (29) عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ

Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kulapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur'an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, "(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.”Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).

Upaya-upaya yang dilakukan oleh siapapun yang berusaha memadamkan cahaya Allah pada akhirnya akan berujung pada kegagalan, sebagaimana apa yang dikatakan oleh Walid sendiri, "Demi Allah, sesungguhnya dalam ucapan yang dikatakannya benar-benar terkandung keindahan yang tiada taranya. Dan sesungguhnya ucapannya itu benar-benar dapat menghancurkan (mengalahkan) semua yang ada di bawahnya, dan sesungguhnya ia benar-benar tinggi dan tiada yang lebih tinggi daripada dia."

Al-Quran ini sungguh membungkam semua orang yang berusaha untuk mematikan cahayanya. Di dalam riwayat Ibnu Hisyam dari Ibnu Ishaq disebutkan bahwa ‘Utbah bin Rabi’ah seorang tokoh cendekiawan di antara kaumnya berkata di majelis pertemuan Quraisy, “Wahai kaum Quraisy, ijinkanlah aku bertemu dan berdialog dengan Muhammad, dan menawarkannya beberapa tawaran kepadanya, barangkali dia bersedia menerima salah satunya. Kita berikan kepadanya apa yang disukainya, dan dia berhenti menyusahkan kita”. Kaum Quraisy menjawab: “Kami setuju, wahai Abu al-Walid. Pergi dan berdialoglah kepada Muhammad.”

Kemudian ‘Utbah datang kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wassallam, lalu duduk di hadapan Nabi, dan berkata, “Wahai putra saudaraku, anda adalah seorang dari lingkungan kami, dan anda pun telah mengetahui kedudukan silsilah kami (yang dipandang terhormat oleh semua orang Arab). Namun ternyata anda telah membawa suatu persoalan yang amat gawat kepada kaum kerabat anda, dan anda telah memecah-belah kerukunan dan persatuan mereka. Sekarang dengarkanlah baik-baik, saya hendak menawarkan kepada anda beberapa hal yang mungkin dapat anda terima salah satu di antaranya, Nabi shalallahu 'alaihi wassallam menjawab :“ Katakanlah , hai Abu al-Walid, apa yang hendak kamu tawarkan.“Utbah bin Rabi’ah berkata, “Wahai putra saudaraku, jika dengan dakwah yang anda lakukan itu anda ingin mendapatkan harta kekayaan, maka akan kami kumpulkan harta kekayaan yang ada pada kami untuk anda, sehingga anda menjadi orang yang terkaya di kalangan kami. Jika anda menginginkan kehormatan dan kemuliaan, anda akan kami angkat sebagai pemimpin, dan kami tidak akan memutuskan persoalan apa pun tanpa persetujuan anda. Jika anda ingin menjadi raja, kami bersedia menobatkan anda sebagai raja kami. Jika anda tidak sanggup menangkal jin yang merasuk ke dalam jiwa anda, kami bersedia mencari tabib yang sanggup menyembuhkan anda, dan untuk itu kami tidak akan menghitung-hitung berapa biaya yang diperlukan sampai anda sembuh.”

Rasulullah saw bertanya kepada ‘Utbah, “Sudah selesaikan anda wahai Abu al-Walid?“
Jawab ‘utbah, “Sudah“. Nabi shalallahu 'alaihi wassallam berkata, “Sekarang dengarkanlah dariku.” Kemudian Nabi shalallahu 'alaihi wassallam membaca:

“Haa Miim. Diturunkan Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang telah dijelaskan ayat-ayatnya, al-Quran dalam bahasa Arab, bagi kaum yang hendak mengetahuinya. Kitab yang membawakan berita gembira dan yang membawakan peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling dan mereka tidak mau mendengarkannya. Mereka (bahkan) berkata, “Hati kami tertutup bagi apa yang kamu serukan kepada kami, dan telinga kami pun tersumbat rapat. Antara kami dan kamu terdapat dinding pemisah. Karenanya, silahkan kamu berbuat (menurut kemauanmu sendiri) dan kami pun berbuat (menurut kemauan kami sendiri).” Katakanlah (Hai Muhammad), “Bahwasannya aku adalah seorang manusia (juga) seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Satu, karena itu hendaklah kamu tetap pada jalan lurus menuju kepada-Nya dan celakalah orang-orang yang mempersekutukanNya......”

Ketika ‘Utbah mendengar bacaan Rasulullah shalallahu 'alaihi wassallam sampai ayat :
“Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Kalian telah kuperingatakan (mengenai datangnya) petir (adzab) seperti petir yang menghancurkan kaum ‘Aad dan Tsamud (dahulu) (QS Fushshilat: 13)

‘Utbah menutup mulut Nabi shalallahu 'alaihi wassallam dengan tangannya memohon supaya berhenti membacanya karena takut ancaman yang terkandung di dalam ayat tersebut.

Kemudian ‘Utbah kembali kepada kaumnya yang sudah menantinya. Mereka bertanya, “Bagaimana hasilnya wahai Abu al-Walid?” ‘Utbah menjawab: “Aku mendengar suatu perkataan yang belum pernah aku dengar sama sekali. Demi Allah, perkataan itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan pula mantera dukun. Wahai kaum Quraisy, taatilah aku, dan biarkan Muhammad dengan urusannya. Biarkanlah dia! Demi Allah, sungguh perkataan yang aku dengar darinya itu akan menjadi berita yang menggemparkan. Jika apa yang dikemukakan Muhammad saw terjadi pada bangsa Arab, maka hanya dia yang bisa membebaskan kamu. Dan jika Muhammad berkuasa atas bangsa Arab, maka kekuasaannya adalah kekuasaanmu, kemuliaannya adalah kemuliaan kamu juga.”

Kaum Quraisy menjawab, “Demi Allah, Muhammad telah menyihirmu, wahai Abu alWalid, dengan perkataanya.” ‘Utbah berkata, “Demikianlah pendapatku tentang Muhammad. Kamu bebas untuk berbuat sesukamu.” [Sirah Nabawiyah, Dr. Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buthy]

Tidakkah kita perhatikan ketika orang-orang kafir Quraisy menyebutkan bahwa al-Quran ini adalah sihir, hal itu menggambarkan ketidakberdayaan mereka akan ketinggian bahasa yang ada di dalamnya? Mereka sangat sadar bahwa al-Quran ini bukanlah perkataan manusia, sehingga mereka tidak mampu untuk mengungkap pengaruhnya kecuali dengan satu kata, "sihir". Mereka pikir "sihir" adalah propaganda yang tepat untuk menjatuhkan kredibilitas al-Quran, padahal sebaliknya tuduhan mereka justru menunjukkan kelemahan diri mereka sendiri dan meninggikan pengaruh al-Quran.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata Ganti dalam Bahasa Arab [Kata Ganti untuk Allah]

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Kalau dalam Bahasa Indonesia kita mengenal kata ganti yang bebas dari orientasi gender, seperti saya, kamu, dia, mereka, dst. Dalam Bahasa Inggris kita belajar kata ganti he untuk laki-laki, she untuk perempuan, dan it yang netral gender. Nah, dalam Bahasa Arab ada dua gender, yaitu mudzakkar (yang menunjukkan laki-laki) dan muannats (yang menunjukkan perempuan). Kalau dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa inggris dikenal kata ganti tunggal dan jamak, dalam Bahasa Arab dikenal kata ganti tunggal (mufrod), ganda (mutsanna), dan jamak. Jadi, jika dikumpulkan ada 12 kata ganti dalam Bahasa arab, yaitu: 1. هُوَ (Dia [laki-laki]): untuk orang ketiga (yang dibicarakan), tunggal (mufrad), mudzakkar. 2. هُمَا (Mereka berdua [laki-laki/perempuan]): untuk orang ketiga, ganda (mutsanna), baik mudzakkar maupun muannats. 3. هُمْ (Mereka [banyak laki-laki]): untuk orang ketiga, jamak, mudzakkar. 4. هِيَ (Dia [perempuan]): untuk orang ketiga, mufrad, muannats. 5. هُ...

Kata Benda dan Kata Kerja dalam Bahasa Arab

Dalam Bahasa Arab seseorang/sesuatu dapat dideskripsikan dalam bentuk kata kerja/verb (fi'il/فعل) atau kata benda/noun (isim/اسم). Dalam bahasa arab, dikenal 2 bentuk tenses: 1. fi'il madhi, kata kerja dalam bentuk lampau, past tenses, Yang menggambarkan sesuatu yang sudah terjadi, dan 2. Fi'il mudhori, Present-future tense, menggambarkan sesuatu yang belum selesai, menggambarkan kondisi sekarang dan yang akan datang. Sebagai contoh, ketika dikatakan اضرب (adribu) berarti I am hitting, ini adalah contoh fi'il mudhari يضرب + kata ganti untuk انا (saya) yang bermakna saya sekarang sedang memukul dan masih memukul (bentuk present-future tense). Ketika sudah selesai maka berubah menjadi ضربت (dhorobtu) yg merupakan bentuk fi'il madhi ضرب + kata ganti انا yg artinya saya memukul dan kejadiannya sudah berlalu (bentuk past tense). Seseorang/sesuatu dapat dideskripsikan dalam kata kerja atau kata benda. Bentuk Kata benda (ism faa'il) mengindikasikan bahwa subje...

Sedikit Cerita dari Pulau Tidung

Pagi itu, waktunya kami pulang menuju Bandung. Tak tahan dengan sakit kepala yang menghinggapi sejak semalam, tak pula menemukan obat sejuta umat -parasetamol- akhirnya saya memutuskan untuk mencari KOPI! Setidaknya buat penanganan akut pening di kepala ya lumayan lah.. at least increasing blood flow to my brain :p Bagian serunya bukan di bagian minum kopinya.. tapi obrolan di warung kopi nya yang seru :D Awalnya sekedar iseng, saya mulai mengajak bicara bapak pemilik warung. Obrolan basa basi lah *kalo bahasa saya mah* mulai dari bertanya sudah berapa lama tinggal di Tidung sampai punya putra berapa. Saya juga agak lupa gimana alur ngobrolnya, si Bapak ini lalu mulai bercerita tentang pekerjaan sewaktu dia muda dulu. Beliau dulu adalah nelayan, mengarungi lautan untuk mencari ikan. Pencariannya tidak hanya di sekitar pulau Jawa, beliau bahkan berlayar sampai ke ujung timur Indonesia, Papua. Iseng saya nyeletuk, "Bapak udah pernah ke Raja Ampat dong?" si Bapak hanya ters...